Lokakarya 1 PPS: Ruh Proses Pendidikan Sumbangsih Nilai Dasar Ketamansiswaan Gagasan Ki Hadjar Dewantara

KONTEN MATERI:

1. pendahuluan; 2. ruh proses pendidikan: dasar ketamansiswaan; 3. implikasi pendidikan Tamansiswa dalam perkuliahan; dan 4. integrasi sariswara dalam membentuk karakter dan turut membangun peradaban bangsa.

OLEH:

Dimas Ario Sumilih



PENDAHULUAN

Lokakarya ke-1 Pamong Pelopor Sariswara (PPS), diselenggarakan oleh Tim Sariswara, Museum Dewantara Kirti Griya yang didukung penuh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta, diikuti oleh 20 orang peserta yang lolos seleksi. Terlaksana pada Sabtu, 28 Agustus 2021, mulai pukul 10.00 sampai dengan 12.30 WIB secara dalam jaringan melalui tatap maya (video konferensi) menggunakan zoom meeting. Pada lokakarya yang pertama ini, peserta di dampingi oleh Mbak Ria Putri Palupijati. Adapun materi yang diangkat adalah Dasar-Dasar Ketamansiswaan, disajikan oleh narasumber yang mengesankan, Ki Sutikno. Beliau adalah kepala museum History of Java 2018-2020, aktivis dan motivator Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Usia Lanjut Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Ki Sutikno juga merupakan ketua Komisi Perlindungan Anak Kota Yogyakarta 2017-2019, dan pernah diberi amanah sebagai ketua Pendidikan Anak Usia Dini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Yogyakarta 2000-2004.


RUH PROSES PENDIDIKAN: DASAR KETAMANSISWAAN

Pendidikan untuk Tercapainya Tertib Lahir dan Batin

Ki Sutikno dalam penyampaian mengawali dengan menggarisbawahi harapan dari suatu proses pendidikan adalah tercapainya "tertib lahir dan batin." Proses pendidikan dengan demikian diharapkan dapat menciptakan kehidupan dunia yang tertib dan manusia yang damai berbahagia. Mengapa manusia? Saya pahami karena manusia adalah satu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan diberi amanah untuk mengelola dunia. Karenanya pun sebagai pengelola, manusia harus mencapai kedamaian dan kebahagian, dan dengan demikian dunia yang dikelolanya pun akan mencapai ketertiban, aman dan tentram.


Pendidikan Jiwa Merdeka

Agar dapat tercapai harapan pendidikan yang mencapai ketertiban lahir dan batin, implikasinya proses pendidikan tidak boleh menakutkan dan menakut-nakuti. Pendidikan pun harus mampu memerdekan jiwa (jiwa merdeka), dan di sinilah pentingnya metode sariswara. Jiwa merdeka dapat diperoleh jika dalam proses pendidikan, peserta didik diposisikan sebagai subjek. Dari posisi subjek menuju ke arah objek, dan bukan sebaliknya dari posisi objek menjadi subjek. Sebagai subjek, maka penghargaan setingginya diberikan kepada peserta didik sebagai jiwa yang merdeka.


Mendidik Bukanlah Mengajar

Ki Sutikno menegaskan bahwa mendidik bukanlah mengajar. Mendidik memuat pengertian yang luas dan mendalam, melingkupi menuntun dan membiasakan. Implikasinya, bahwa mendidik itu harus mengesankan. Di masyarakat, orang tua sebagai pendidik harus mampu memberi kesan yang menarik dan positif bagi anak-anaknya. Di sekolah, guru-guru sebagai pendidik harus menyusun strategi agar proses belajar pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan dan mengesankan bagi para peserta didiknya.


"Salah" Tidak Sama dengan "Jahat"

Oleh karena guru dalam mendidik melingkupi upaya menuntun dan membiasakan, maka guru dalam praktiknya di sekolah harus menanamkan dan membedakan antara "salah" dan "jahat". Ki Sutikno mengingatkan kepada kita, dua konsep itu jauh berbeda. Perilaku salah itu masih bisa diperbaiki, namun tindakan yang jahat itu akan membekas, melukai, dan menciderai orang lain. Hal ini perlu ditanamkan dalam pribadi sehingga menjadi karakter pada setiap anak didik. Kita, para pendidik, harus memotivasi diri dan anak-anak didik untuk selalu berbuat kebaikan, dengan kebaikan-kebaikan terus menerus.

Ilmu yang baik akan menyelamatkan dunia. (Ki Sutikno)


"Nirokake": Konsep Dasar Pendidikan Gagasan Ki Hadjar

Proses pembelajaran sebagaimana yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional/Indonesia, terlaksana melalui proses: (1) ndeleng (melihat, mengamati, mencermati), (2) niteni (mengingat-ingat dan mengidentifikasi), (3) nirokake (menirukan), dan (4) nambahi (eksplorasi lanjut). Ki Sutikno menggarisbawahi aspek nirokake (meniru) sebagai konsep dasar pendidikan. Implikasinya, pasti ada yang ditiru, dan yang ditiru itu harus patut untuk dituru. Peran dan posisi guru pada implikasi ini adalah jelas. Guru harus dapat dan patut untuk ditiru, karenanya jiwa dan nilai keteladanan menjadi kunci dalam proses pendidikan.


Ki Sutikno menambahkan bahwa proses pendirian "Taman Pintar" di pusat Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun atas dasar konsep Ki Hadjar Dewantara tersebut, yaitu: ndeleng, niteni, nirokake, dan nambahi. Dengan demikian, dapat kita peroleh suatu pemahaman bahwa "Taman Pintar" memiliki nilai dan karakter yang jelas, bersendi pada ajaran leluhur bangsa, mengapresiasi dan meneruskan estafeta cita-cita pendidikan bangsa Indonesia yang luhur.



IMPLIKASI PENDIDIKAN TAMANSISWA DALAM PERKULIAHAN

Pendidikan Tamansiswa atau Ketamansiswaan bukan dalam pengertian sempit hanya diberlakukan dan terbatas untuk Perguruan Tamansiswa saja. Ketamansiswaan yang dimaksud adalah Gagasan Ki Hadjar Dewantara yang memberikan sumbangsih bagi pendidikan, kebudayaan, kemanusiaan, dan peradaban bangsa kita. Kiranya demikian, pendidikan Tamansiswa, sebagaimana uraian di atas, khususnya posisi strategis metode sariswara dapat berimplikasi dalam sistem perkuliahan dan tridarma perguruan tinggi.


Ada setidaknya 8 (delapan) tahap yang saya usulkan, sekaitan dengan implikasi pendidikan Tamansiswa dalam perkuliahan, yaitu: (1) jelas capaian pembelajarannya, (2) adanya kesempatan curah pendapat (brainstorming), (3) memberi keleluasaan menghayal, (4) memberi kemerdekaan dalam mengeksplorasi lebih lanjut, (5) membuat kerangka berpikir, (6) menentukan langkah, (7) melaksanakan aktivitas, dan (8) membangun komitmen dan bertanggung jawab.


1. Jelas Capaian Pembelajarannya.

Memiliki capaian pembelajaran yang jelas arah dan tujuannya, sehingga perkuliahan menjadi terarah, memiliki konsep yang jelas, serta alur yang sistematis.


2. Adanya Kesempatan Curah Pendapat (Brainstorming).

Setelah memahami capaian pembelajaran, perkuliahan diharapkan memberikan fasilitas atau ruang waktu dan kesempatan bagi mahasiswa peserta kuliah untuk menyampaikan pendapat (curah pendapat) dengan mengumpulkan banyak gagasan dan ide-ide serta konsep awal mahasiswa tentang suatu konten perkuliahan (brainstorming).


3. Memberi Keleluasaan Menghayal.

Gagasan, ide, dan konsep-konsep awal mahasiswa yang terkumpul di data dengan baik dan disepakati. Pada dasarnya mahasiswalah yang tahu kebutuhan mereka sendiri akan ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya. Karenanya, ide dan konsepnya harus "dibayang-bayangkan." Ada unsur menghayal dan berimajinasi, karena proses ini penting bagi tumbuh suburnya kreativitas dan inovatif. Dari proses menghayal ini lahirlah pertanyaan-pertanyaan yang diangkat menjadi masalah atau problematika yang lebih lanjut akan dipelajarinya.


4. Memberi Kemerdekaan dalam Mengeksplorasi Lebih Lanjut.

Tahapan ini merupakan tahapan lanjut dari proses menghayal. Eksplorasi berarti menggali dan memperdalam serta memperluas kajian untuk mengerti, memahami, dan menghayati suatu kajian atau konten pembelajaran, berdasar pada gagasan, ide, dan konsep awal yang dipilih oleh mahasiswa yang bersangkutan.


5. Membuat Kerangka Berpikir.

Membuat kerangka berpikir ini merupakan langkah nyata, kontinyuitas, yang menunjukkan upaya berpikir tingkat tinggi (HOT/Higher Order Thinking Skill) pada setiap mahasiswa dari apa yang telah dieksplorasi. Kerangka berpikir memerinci, memetakan, dan sekaligus mulai berpikir menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah atau problematika.


6. Menentukan Langkah.

Langkah adalah aksi nyata, tidak berhenti pada teoretis dan konseptual. Apa yang telah dibayangkan, dieksplorasi lanjut, dan disusun kerangka pikirnya, harus segera ditentukan langkah-langkah aksinya. Aktif-kreatif-inovatif merupakan kunci dalam menentukan langkah. 


7. Melaksanakan Aktivitas.

Aktivitas dilakukan selanjutnya dengan menjalankan dan mempraktikkan langkah-langkah yang telah disusun. Aktivitas ini berupa proses nyata, laboratoris, penelitian lapangan, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui aktivitas ini, mahasiswa dapat menghayati konten materi dengan baik, karena yang bersangkutan merasakan dan melakukan aktivitas untuk menyelesaikan masalah atau problematika.


8. Membangun Komitmen dan Bertanggung Jawab.

Ini adalah langkah yang berkaitan dengan etika dan karakter. Aktivitas yang dilakukan sebagai proses untuk menemukan jawaban, atau menyelesaikan masalah dan problem-problem yang diajukan, selanjutnya harus memenuhi komitmen dan bertanggung jawab, seperti: menghargai pandangan orang lain, menjauhi tindakan plagiasi yang terkutuk, menyusun laporan dengan penuh tanggung jawab secara ilmiah, dan kemudian memublikasikannya secara luas sebagai hasil proyek kerja mahasiswa dengan terbimbing.



INTEGRASI SARISWARA DALAM MEMBENTUK KARAKTER DAN TURUT MEMBANGUN PERADABAN BANGSA

Diskusi yang menarik di WhatsApp Group Peserta Program PPS, menjadi semakin hangat ketika Cak Lis memberikan pemantik:

Bukan seni sumbernya, seni hanya medianya ... . Ayo gali ciri khas keunikannya sendiri. Budaya bersumber dari 3, sandang-pangan-papan ... . Cari keunikan dari 3 hal itu di sekitar anak-anak kita ... . Cuzzz!


Kutipan pemantik diskusi yang tertulis pada chat di grup WA oleh Cak Lis menggugah saya untuk memberikan tanggapan, mencoba memahami dan mengintegrasikan sariswara dalam membentuk karakter dan membangun peradaban bangsa. "Seni bukan sumbernya, seni hanya medianya ... ." 


Saya pahami bahwa capaian kemajuan peradaban suatu bangsa memiliki setidaknya 5 (lima) unsur pokok yang harus dipenuhi, yaitu: (1) ber-Tuhan, (2) berbudaya, (3) bermasyarakat, (4) bersinergi dengan alam, dan (5) menghargai ruang dan waktu. Boleh disebutkan bahwa ke lima unsur tersebut adalah syarat terpenuhinya suatu capaian beradaban. Lima unsur itu yang harus dipenuhi, dan metode sariswara memiliki peran strategis.


Pangan, sandang, dan papan, saya yakini memiliki aspek seni. Salah satu ungkapan mutiara yang sempat saya terima dari penyampaian Ki Sutikno, bahwa "Pendidikan membangun derajat budaya." Konsep derajat budaya itulah yang saya pahami sebagai "peradaban." Hal yang sering saya sampaikan kepada mahasiswa untuk memahami dasar-dasar antropologi. Mengidentifikasi makhluk manusia, membedakannya dengan "yang bukan manusia." Faktor utamanya adalah "budaya." Sedikit mengambil pandangan Ki Priyo pada pertemuan Launching Program PPS pekan lalu (21 Agustus 2021) yang menggarisbawahi gagasan Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan adalah proses budaya.


Manusia, dalam tinjauan antropologi adalah makhluk Homo sapiens (spesies). Makhluk ini dianugrahi otak dengan kapasitas hingga mencapai 1.500 ml., membedakannya dengan Homo erectus, Homo habilis, apalagi kelompok Australopitecus dan primata-primata lainnya, katakanlah monyet (monkey) dan kera (ape). Karenanya manusia (Homo sapiens) memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyimpan memori kerja otak hingga 1.000 terabyte (1 juta gigabyte).


Kemampuan ini diimbangi dengan evolusi fisik/ragawi (tinjauan antropologi biologi/ragawi) pada tulang kaki, paha, tulang belakang, pantat, tangan, jari-jemari, dan lainnya hingga tengkorak, pun termasuk organ dalam. Dengan demikian, manusia dapat secara fleksibel melakukan gerak-gerak tubuh dan menggunakan secara maksimal organ fisik tubuhnya, seperti: memegang, memanjat, berjalan dengan tegak, menari, kemudian menggambar, dan menulis. Manusia dapat berartikulasi dan menghasilkan suara yang jelas, berkata-kata, menyanyi, hingga menciptakan teknologi (alat) untuk mempermudah cara kerja dan menolong cara hidupnya.


Manusia (Homo sapiens) dapat: (1) berpikir menghasilkan ilmu pengetahuan, (2) berbicara menciptakan aneka bahasa, (3) berkelompok membangun norma, bersosial, dan berstrategi/politik, (4) menciptakan dan mengembangkan teknologi, (5) mengatur sistem ekonomi bagi eksistensi kehidupannya, (6) menciptakan daya seni dan kreativitas, serta (7) mengagumi Sang Pencipta yang Adi Kodrati. Itulah budaya.


Hanya manusia (Homo sapiens) yang dapat memenuhi kriteria budaya dengan holistik meliputi lengkap ke tujuh unsur itu. Karena itu pula manusia butuh hidup bersosialisasi (sosial) dan enkulturasi (pembudayaan). Konteks ungkapan mutiara Ki Sutikno terletak pada "pendidikan bertanggung jawab meningkatkan derajat budaya." Maka unsur dasar budaya itu dapat mencapai derajat yang lebih unggul, mencapai keadaban. Hingga capaiannya itu pada peradaban.


Kembali pada pangan, sandang, dan papan yang sempat diungkap Cak Lis. Bagi manusia ke tiga hal itu tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Konsekuensi Homo sapiens, tiga aspek itu masuk pada ranah budaya. Hingga pada saatnya aspek ini meningkat menuju pencapaian derajat peradaban. Proses menuju peradaban ini dibutuhkan nilai etika dan sentuhan estetika.


Seni menjadi media. 

Terima kasih.

Salam dan bahagia.



das.29082021







0 Komentar